Osiris, Isis, Seth


Jika kamu ingin bertanya tentang cinta, tanyakan saja kepada Isis yang telah mengabdikan sisa usianya untuk mencari potongan tubuh Osiris di segala penjuru dunia.

Ya, kamu bukan Isis dan aku bukanlah Osiris. Jika kita berdua bukan dewa dan dewi, berarti kita adalah makhluk yang telah diciptakan untuk menguji kemurnian cinta yang pada perputaran roda, akan mengalami susut, patah, abu…. sebab, kita adalah insan.

Dan aku begitu juga kamu sama-sama mengenal Seth. Kadang, Seth berupa setitik mikro yang berjalan di pembuluh darah, menyebar ke akal, menjalar ke hati, mencemari segala bentuk putih menjadi buram lalu kelabu lalu menghitam jelaga. Bagaimana pun, aku tetap mengenal Seth, sebab dalam kelahiranku, Seth telah bersanding serupa susu yang melarut dalam air payudara ibu. Hidupku semacam Osiris, dewa kebaikan dalam kehidupan, namun di sisiku bernafas pula Seth, dewa berwajah durja yang menyebar benih-benih kejahatan. Bukankah sejatinya dalam hidup ini ada dua sisi berlawanan yang justru berdekatan yang mencoba saling menjajah akal dan hati; baik buruk, putih hitam, malaikat iblis. Aku, dalam satu tubuh yang berdenyut ini, hiduplah mereka; Osiris dan Seth.

Hingga aku bertemu dengan Isis. Mencintai berarti aku harus yakin bahwa; aku pula dicintai. Layaknya kedua kaki, mencintai dan dicintai adalah keseimbangan yang menjauhkan kita dari lumpuh.

Isis telah menghadiahkanku beragam sukacita dalam beragam waktu. Setiap waktu bersamanya, aku telah berhasil menyimpan kenangan-kenangan spesifik tentang wajahnya yang damai, sentuhannya yang hangat, tawanya yang berdenting, serta juga kekesalanku yang tak berjangka lama. Mencintai berarti bagaimana kedua belahpihak merasa nyaman tanpa ukuran apa-apa, bukan sempurna yang memiliki ukuran tertentu. Bukankah sudah aku katakan bahwa sesuatu yang memiliki ukuran tertentu, dalam perputaran roda, akan mengalami susut, patah, abu,… sebab kita adalah insan.

Mengapa aku mencintai Isis,… Sebab darinya, aku belajar untuk melenyapkan Seth perlahan-lahan dari hidupku. Mempelajari keseimbangan dari mematikan Seth dan menghidupkan bayangan Isis hingga benar-benar bersanding; Osiris dan Isis dalam tubuhku. Meski kita retak, setidaknya kita telah mencoba. Meski kita bukan imortal, setidaknya kita masih menggenggam waktu….

Ketika Seth mencincang-cincang jiwaku lalu memberaikannya dalam ruang kegelapan, aku ingin kau memungutnya, menghidupkanku kembali, apa adanya…….

*Osiris adalah putra  dari Dewa Geb yang dianugerahi semua kebaikan dalam mitologi Mesir Kuno.

*Seth adalag putra dari Dewa Geb yang dianugerahi semua keburukan dalam mitologi Mesir Kuno.

*Isis adalah dewi cinta dan kesuburan yang hanya mencintai Osiris dan dicintai oleh Seth (membuat Seth marah dan membunuh Osiris).

(Cuplikan cerpen; Membunuh Seth)

@ Coffe Tiam, 22 April 2011, 17:04PM

Judul : Kopang

Penulis : Mardian Sagiant dan Riani Kasih

Penerbit : Literer Khatulistiwa

ISBN : 978-602-19769-0-6

Tahun : 2011

Kumpulan Cerpen :

1. Perempuanku, telah mabuk oleh sibuk. Memilih tidur dengan buku-buku menumpuk daripada berdua denganku untuk peluk memeluk. (Lelakiku Bernama Titik-Titik, Riani Kasih)

2. Bram sudah menyediakan satu tiket perjalan ke Paris untuk Paris. Tanpa minuman import, tanpa passport. (Paris untuk Paris, Mardian Sagiant)

3. Ibu memasungku karena aku menyerupai putri malu, bila dijamah akan marah kemudian melemah. (Bola Kaca dalam Lemari Kaca, Riani Kasih)

4. Kalian membanting pintu. Mata kalian bertatap temu. Bukan rindu tapi nafsu. Menjadi birahi yg tak pandangbulu. (Basa-Basi Kloset, Mardian Sagiant)

5. Mereka hanya jalang ketika di depanku. Tidak di depan bini dan anak mereka. Tidak di depan bawahan mereka. (Kopang, Riani Kasih)

6. Kita. Bermula dari satu atom yg berdiri sendiri, lalu mengikat diri dalam tabung alam yg nisbi. (Senyawa, Mardian Sagiant)

7. Mereka tak perlu banyak mencaci. Apalagi pura-pura suci. Sampai nanti Lamban Pesagi menjadi saksi, mengapa kita lesbi. (Kutemukan Kamu di Lamban Pesagi, Riani Kasih)

8. Ya, saya memiliki zombie, seekor binatang yg bukan binatang biasa. Seekor binatang yang suka menyantap selangkangan daripada daging-daging lainnya. (“Saya Memiliki Zombie, Seekor Binatang yang Bukan Binatang”, Mardian Sagiant)

9. Jika kamu menjadi milikku, maka takkan pernah menjadi milik siapapun. (Desah di Balik Celah, Riani Kasih)

10. Dan, kamipun saling membuka diri. Saling membagi. Aku lupa pada awalnya bahwa aku ingin sendiri. (Gugur Maple di Willamette Park, Mardian Sagiant)

:)

#Buku #Kopang

» Sekapur Sirih tentang #Kopang

Eksperimentatif, simbolisasi, dan eksplorasi menjadi tiga kata yg mungkin dpt mewakili konstruksi kumpulan cerpen ini. Bagaimana tidak? Kumpulan cerpen Riani Kasih dan Mardian Sagiant ini sarat akan isu seksualitas: perempuan dan lelaki. Dengan tema pelecehan seksual, biseksual, homoseksual, lesbian, trauma masa kecil, perkosaan, pelacuran, hingga perselingkuhan dgn sudut pandang “awam”.

Yang perlu dicermati adalah karya2 dlm kumpulan cerpen ini tidak hanya mengumbar kevulgaran, interaksi seputar seksualitas saja.Namun, ada sesuatu yg lain. Yaitu, simbolisasi pesan dan pelajaran hidup dlm dunia yg gairah besarnya adl materi, syahwat, dan senang-senang. Secara simbolik, kedua penulis ini muda ini menggambarkan akibat-akibat fatal yg terjadi dari sebuah interaksi seksual terlarang.(Dedy Ari Asfar, pengamat sastra)

Dengan gaya penyajian yg berbeda, keduanya mengajak pembaca utk larut dlm alur cerita yg menggelitik, ditambah lagi pilihan-pilihan kata yg cukup menggigit. Dapat dikatakan keduanya telah berhasil mengungkapkan idenya dgn gaya yg khas. (Sesilia Seli, dosen sastra FKIP Untan)

(Source: mardiansagiant)

#Buku #Kopang

» Testimoni

Tes-tes… Done!

Di Bawah Senja Legundi


“Justru karena cinta perbedaan itu dapat menyatu.”

“Tapi, perbedaan kita ini beda,…”


Fajar akan merekah. Jendela siang terbuka. Kelopak senja mekar. Lalu selimut malam menghampar. Apa yang tertarik dari sebuah waktu? Hanya sebuah fase. Sebuah siklus. Sebuah daur rasa. Bukankah hidup itu untuk merasa? Rasa yang berputar-putar hingga laju dan melaju. Suka. Sedih. Manis. Pahit. Asam. Asin. Hambar. Itulah pasangan waktu pasangan hidup pasangan Dewa.


Dan Dewa, cukup perasa untuk mencecap daur itu dari alur-alur yang mengulur, menguji imannya agar tidak mengendur. Hanya Tuhan sanggup menyentuh rasa-rasa itu hingga menjadi sinar di kalbunya.


Di sebuah kontrakan di tepian Bakauheni Dewa selalu menatap langit biru tanpa awan dengan burung-burung hitam yang menodai jernihnya mega serta ia dapat melihat kokoh sayap elang yang melenggang sendiri menubruk atmosfir siang menyengat dan membakar dan akan ada hingar nyanyian pipit di dahan nyiur di sepanjang dermaga yang airnya tenang dan angin utara akan meniup permukaan laut itu hingga terlahir riak-riak menawan dari rahim penguasa laut sementara perahu kayu yang melintas seperti perahu kertas yang di dorong oleh hembusan-hembusan gaib yang serta merta menampar wajah-wajah dengan lembut dan membelai kulit dengan paksa hingga membuat menggigil dan jiwa terpanggil. Seperti Dewa, jiwanya terpanggil untuk mengingat Dewi.


“Aku mencintaimu, Dewi.”


Dewa seorang perasa. Perasa suka yang ditindas luka. Perasa luka yang diserahkan suka. Ada manis yang berdebu dalam kenangannya. Namun pahit yang bergelanyut manja dalam bantal dan sandar tidurnya. Semua itu membuatnya lemah seperti remah-remah tak berguna. Betapa kuat ia bertahan. Ia mencari di mana hidungnya mencium. Dia melihat di mana matanya terbuka. Dia bersuara di mana mulutnya sudah merasa sengal karena keluh yang mengental. Dan di saat itu, ia percaya Injil untuk dilantunkan untuk sebuah tuntunan.


Sementara manusia-manusia sibuk dengan dunianya. Dunia kecil bernama Kalianda. Dunia yang diberkahi berjuta-juta cinta dan cita. Cara manusia-manusia memandang lalu merangsang. Melalui ekor mata yang penuh isyarat hingga hati terjerat. Dunia kecil bernama Kalianda, manusia-manusia itu terjelma dari seserpih pengharapan; karena cinta, untuk cinta.


“Siapa namamu?”


“Dewi Fatma Alhabsy. Namamu?”


“Dewa. Darius Dewangga Tarigas.”


“Dewa?”


“Ya. Aku. Namaku Dewa. Itu panggilanku. Lalu kenapa?”


“Tidak apa-apa. Aku sendiri seakan tak yakin bahwa aku adalah Dewi dan kamu Dewa. Bukankah dewa berpasangan dengan dewi.”


“Ah… Kamu mengada-ada.”


“Kamu seperti bulan Ulun Lampung. Kamu seperti orang asing.”


“Ya,.. Aku bukan Ulun Lampung. Aku pendatang dari Kalimantan, Pontianak. Aku Ulun Dayak.”


“Sudah lama kamu bekerja di Pasar Kalianda?”


“Tidak juga, aku kuli baru di toko kelontong. Sebelumnya menjadi ‘asisten’ nelayan di pesisir Bakauheni.”


“Orang tuamu?”


“………”


“Maaf jika kamu tidak mau menceritakan itu. Kamu tinggal sendiri?”


“Ya.”


“Dimana.”


“Rumah kontrakan di pesisir Bakauheni.”


“Mau ke mana kamu?”


“Pulang. Aku harus siap-siap, ada Misa nanti malam di gereja. Kamu sendiri mau ke mana?


“Pulang. Aku harus siap-siap, ada acara betamat teman-temanku di rumah guru ngaji nanti malam.”


***


Di pasar Kalianda, mereka bersua. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, mereka masih bersua.


“Kyai Usman Alhabsy pemilik pabrik gula itu bapakmu?”


“Ya. Kamu, apa kabar orangtuamu di sana?”


“………”


“Maaf jika kamu tidak mau menceritakan itu.”


“Tidak apa-apa. Mereka ingin aku menjadi pastor.”


“Jadi, karena itu kamu lari ke mari?”


“Ya. Pernahkah kamu mengunjungi Pulau Legundi? Aku ingin mengajakmu.”


“Belum.”


Bertemulah, Dewa dan Dewi tanpa sambutan Sigeh Penguten, tanpa iringan gambus, tanpa nyanyian kasih, kecuali atas nama satu kekuatan, keagungan, kebesaran, kebijaksanaan, cinta. Mereka sering bertemu dan bertemu dan bertemu lagi, dan lagi.


Siapa yang dapat menolak? Ketika mereka harus menahan kisahnya menjadi kisah-kisah suci tanpa noda, tanpa drama, tanpa senggama. Mereka mencintai dari hati, dan dari hatilah mereka mencecap noda, bermain drama, dan mengikat senggama dalam gelap mata. Keduanya seperti sepasang merpati yang melintas laut Selat Sunda dan singgah di puncak Krakatau untuk berdua.


Mereka berjanji akan menikah. Bersama. Berdua hidup. Berdua mati.

Senja melukis langit menjadi merah jingga kuning seperti tangga-tangga khayangan di ufuk barat tanpa ujung tanpa batas memantulkan sisik-sisik emas pada permukaan air meriak pelan seperti hamparan sutera perak yang dibentangkan Tangan Tuhan bersama angin senja yang damai namun menggulung debu-debu daratan Bakauheni hingga menyatu dengan uap yang menguap karena lemahnya panas yang membuat sayap-sayap burung hitam putih mengumpul dan menari dengan iringan dawai semilir yang tercium dari segala mata angin dan membawa aroma garam lalu hamparan sutera perak itu begitu cepat berubah menjadi sebuah bingkai cermin yang memantulkan gadrasi merah jingga kuning seperti tangga-tangga galaksi dan peri-peri dengan sayap emas seperti terjelma dengan kasat mata oleh dua pasang mata insani yang memadu kasih dalam sebuah perahu dalam hamparan laut yang merah lalu semakin merah dan matahari senja itu seperti pigura setengah bundar yang bergelimangan cahaya surga.


“Apa yang ingin kamu katakan Dewa?” tanya Dewi. Tubuhnya yang putih menjadi merah. Wajahnya merah. Alam di sekelilingnya merah karena takluk oleh raja. Raja senja.

“Coba kamu terka sendiri, untuk apa aku membawamu jauh dari kota, pasar, ataupun dermaga. Jauh dari kehingaran. Jauh dari kekuasaan. Jauh dari segalanya?” Dewa justru sebaliknya bertanya. Dadanya yang kekar merah. Tubuhnya merah. Wajahnya merah.


Lalu Dewi menatap di sekelilingnya dengan seksama. Tatapannya memeriksa. Ia menelan ludah. Nafasnya memburu, bersaing bersama derau angin yang bertalu. Senja itu telah meraibkan warna alam yang kaya menjadi sendu. Kini semuanya terlihat merah nan syahdu. Tak jauh dari berdirinya yang terombang-ambing, tiba-tiba matanya takjub, jiwanya hendak melagu.


“Aku masih belum paham.” Dewi seperti patung. Ia seakan histeris dengan pandangannya kali ini.


“Karena aku ingin membagi keindahan ini kepadamu, Dewi. Hanya kepadamu. Aku takjub pada keindahan tempat ini. Takjub dengan keindahannya, keheningannya! Di sini tiada siapa-siapa selain kita.” Dewa berdiri di samping Dewi. Kini Dewa seperti patung yang sama bersama Dewi. Keduanya menatap sebuah pulau kecil yang dibentengi nyiur-nyiur. Namun, semuanya terlihat merah. Nyiur merah, pasir merah, air merah. Pulau itu terlihat megah.


Dewa menarik perahunya ke sebuah daratan berpasir halus. Air dingin menjilat kakinya yang telanjang. Dan Dewi dengan kaki putihnya yang menjulang, telah menapaki pasir-pasir yang perawan. Seperti dirinya, daratan berpasir indah itu seakan hamparan awan yang tak terjamah roh-roh yang tertawan. Ia menatap sekelilingnya dengan gores temaram yang membuat damainya bersemayam. Ia menatap Dewa bertanya-tanya seperti bocah awam.


Dewa menatap rona lembayung wajah Dewi. Riak ombak adalah latar yang hendak membungkus tubuh kurus yang menggairahkan itu. Nyanyian nyiur adalah nada instrumental yang mengalun bersama gesekan semilir. “Ini Pulau Legundi. Pulau yang selalu aku kunjungi saat aku mencari kedamaian. Dan di saat senja, aku mendapatkan seratus kali kedamaian dari tenggelamnya matahari di ujung barat. Tuhan begitu adil. Ia menciptakan segalanya dari apa yang tidak aku inginkan hingga apa yang aku dapatkan.”


Dewi memperhatikan Dewa yang seakan berbicara dengan matahari. Lalu ia mendekat, memeluk lengan Dewa dan menyandarkan kepalanya di bahu. “Kamu percaya Tuhan?”


“Aku percaya Tuhan. Dan aku tak akan pernah berpaling dari-Nya.” Dewa mendesah. Ia menggenggam tangan Dewi dan mengecupnya. “Aku tidak hanya berdoa setiap minggu. Aku juga tidak hanya beribadah di gereja. Bagiku, kapan dan di manapun, aku patut mengingat-Nya. Apalagi, ketika aku mendapatkanmu.” Dewa berhadapan dengan Dewi. Matahari mengintip di antara celah tubuh mereka. “Yesus, terima kasih telah menurunkan berkah terindah ini.” tangan Dewa bergerak membentuk tanda salib di wajah dan tubuhnya. Ia memeluk Dewi yang tubuhnya berguncang-guncang. Ya Allah, lestarikan cinta ini, batin Dewi berdoa.


Keduanya menyusuri bibir pantai. Jejak-jejak kaki mereka tersapu riak. Dan mereka terus melangkah menjejali pasir-pasir sehalus satin dengan tubuh yang seperti dua pasang siluet lukisan alam.


“Apa hubungannya denganku?” Dewi bertanya seketika.


“Untuk itulah aku membawamu ke sini. Dan untuk itulah aku ingin berkata.”


“Katakanlah Dewa,”


“Aku mencintaimu seperti kemegahan Legundi ini, seperti heningnya yang tak pernah dibagikan kepada camar-camar sekalipun.”


Dewa Diam. Dewi menoleh. Bibirnya menyeringai. Sebuah senyuman.


“Cuma itu?”


“Aku hanya ingin mencintai kamu apa adanya.” kata Dewa kagum.


Mereka berpelukan. Erat. Membara, mengalahkan membaranya merah mega dan debur ombak yang mulai mengembara. Di atas perahu itu, sosok Dewa Dewi seperti lukisan senja di pelantaran samudera.


“Menikahlah denganku?” pinta Dewa.


“Kepada siapa lagi aku harus meminta?” Dewi sumringah tanpa memikirkan apa-apa selain cinta, cinta, dan cinta!


***


“Aku akan menikah.”


“Menikah?”


“Ayahku telah menjodohkan aku dengan Kyai Hamdani dari Sukadana.”


Dewa diam. Mulutnya seperti di tempel lem terkuat di dunia. Cukup lama ia menerawang, menjelajahi seluk beluk pikirannya tanpa diketahui ke mana ia akan menghentikan penjelajahan itu. Lalu mulailah ia bermain dengan rasa. Baru beberapa waktu yang lalu, rasa-rasa yang dicecap inderanya adalah warna-warna mencolok yang manis dan cerah. Sontak, kali ini mendung beserta hujan beserta halilintar menghujam rasanya.


“Apakah kamu setuju?” tanya Dewa datar.


“Setuju?” kening Dewi berkerut. “Aku hanya cinta kamu, Dewa.”


Dewa seakan memperoleh pencerahan dari jawaban Dewi. Mendung, hujan, halilintar dalam rasanya itu kini berganti dengan segores warna pelangi yang membuat segalanya indah. Dewa batal menyerah. Ia sadar betapa malunya untuk menjadi lemah. Ia dihadapkan pada pilihan yang salah. Ia tetap tak ingin berserah. Baginya terlambat untuk menjadi pasrah. Ia sudah menggenggam gelora yang diatasnamakan cinta dari Sang Kuasa. Ia akan memelihara dengan perkasa. Dan tetap, sebagai manusia ia bersulam sejuta rasa. Waktu yang dapat menguji sebuah kisah yang bergulir suka dan siksa. Bersama Tuhan, ia sepakat untuk tidak memaksa.


Dewi menggenggam tangan Dewa. Kali ini ia merasakan kekuatan yang terpatri dari bertemunya kehangatan darah-darah yang melaju di bawah kulit mereka yang bersentuhan. Dewi memeluk Dewa dan dengan demikian ia cukup merasakan sentakan hebat yang menambal keretakan jiwanya. Ya, dia benar-benar retak. Suaranya serak. Telinganya pekak. Kali ini bersama Dewa, ia seperti terlahir kembali dari rahim cinta yang terus tumbuh dan bergerak.


“Aku ingin selamanya bersamamu. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin tinggal bersamamu,” pinta Dewi.


Dewa tersenyum. “Kembalilah besok.”


“Besok?”


“Katakan kepada orangtuamu, kita akan menikah.”


“Menikah? Kita?”


“Iya!”


“Mereka tidak akan menyetujui, apalagi merestui. Kamu tahu Dewa, kita ini berbeda.”


Dewa menggenggam tangan Dewi. Diselaminya kedua mata Dewi yang menyendu, tersedu.

Dewa berkata dengan lembut, “Apakah semua itu karena perbedaan. Apakah karena aku seorang Katolik. Apakah karena aku bukan seorang Muslim yang sama denganmu? Apakah karena kamu Ulun Lampung dan aku ulun asing? Lantas, aku tidak bisa mencintaimu atas dasar rasa seorang manusia. Aku maupun kamu sama-sama manusia yang diciptakan sama oleh Tuhan. Justru karena cinta perbedaan itu dapat menyatu.”


“Tapi, perbedaan kita ini beda, Dewa.” Dewi meragu. Matanya berkaca. Ada embun yang menggantung di balik kaca itu. Lalu diingatnya sosok Kyai Usman Alhabsy, bapaknya yang sangat tegas dengan hukum Cempala Khua Belas kepada putri-putrinya mengenai aturan ‘gadis, muhrim, dan Islam’ membuat Dewi merinding. “Ah, Dewa, aku tidak berani berkata apa-apa kepada orang tuaku.” keraguan dan kengerian menjalari perasaannya.


“Aku tahu mereka akan murka, tapi setidaknya kamu telah menyampaikan bahwa kamu telah memiliki pilihan.”


Dewi senyap. Mencerna sertiap kata-kata Dewa. Otaknya bekerja. Sekali ia menelan ludah dan menarik nafas panjang. “Baiklah. Tunggu aku besok. Jika aku tidak datang. Jangan pernah cari aku lagi.” Dewi menunduk. Kata terakhir itu adalah misteri sendiri baginya.


“Karena aku yakin kamu akan datang.” Dewa meyakinkan.


Mereka berpisah. Saling menatap dalam kejauhan lama sekali.


***


Perahu-perahu seakan murka pada laut yang ganas menghempas tubuhnya hingga olang-aling hingga nyaris tenggelam namun tetap bertahan seakan tampak roh menyerah dari perahu-perahu nelayan Bakauheni itu dari pada melawan takdir Tuhan yang mengirim angin sebagai pasukan-pasukan penyadar iman dengan menyapu rongga-rongga dunia hingga menjadi helai-helai daun yang melayang rapuh sementara tidak ada hingar pipit nyanyian camar apalagi kepakan kokoh elang yang semuanya itu bersembunyi di lubang alam yang kemudian di tetes-tetes air umpama wahyu yang diturunkan di tengah Sahara menciprat lubang alam itu bertanda doa-doa makhluk yang terkabul. Hujan membasahi tepian Bakauheni.


Dewa menunggu Dewi. Cukup lama. Ia berdiri di ambang pintu kontrakannya. Matanya menerawang jauh ke arah jalan kayu di mana biasa tubuh Dewi muncul dan menghampirinya. Cukup lama. Dalam terawang itu, hatinya seakan kosong membiarkan roh imajinasinya selayak musafir yang mengembara ke gurun-gurun nikmat rekaannya. Ke masa lalu yang belum cukup lama berlalu. Ke dunia cinta yang telah di selaminya dalam tautan rasa. Cukup lama. Sebelum matahari berpijar sempurna dan hujan merebut tugasnya. Titik-titik air itu kian menirai hingga terlihat samar pandangannya. Dingin mulai menyergap. Tatapannya tetap merayap melewati ceruk rasa yang terasa pengap. Lalu semuanya terasa gelap. Diingatnya nama Tuhan tanpa gelagap. Yesus ada di sampingku. Yesus berkati aku.


Apakah karena hujan?


Badai?


Cinta tak mengenal itu!


Apalagi perbedaan!


Dan Dewa bergerak. Ia mengayuh sepedanya melawan deras. Melawan angin. Melawan kalut yang menyulut. Ia terus mengayuh. Sama sekali tak ada lelah. Justru semangatnya kian menyala. Dewi. Dewi. Dewi. Dewi…………………………….. Nama itu seperti penggerak darah. Setiap kata itu adalah api yang menyala dalam beku yang membuatnya mati rasa. Dewi. Dewi. Dewi. Dewi………………………….. Dewa terus mencari Dewi.


Lalu Dewa tidak menemukan Dewi di mana-mana. Tidak di nuwo kuno-nya yang berbentuk panggung dan beratap sirap di Kalianda. Tidak di Pasar Kaliandra tempat awal mereka bertemu. Tidak di mana-mana karena Dewi memang tidak di mana-mana. Ia sendiri tidak tahu Dewi di mana. Apakah ia di Sukadana untuk melakukan ngarak maju sebagai pengantin? Apakah ia sedang menikamati alunan rebana dan syair lail di rumah calon suaminya? Lalu kekuatan yang ada pada Dewa padam seketika sama dengan terik yang tiba-tiba mengilangkan jejak-jejak hujan.


Tapi Dewa bukan dewa yang raganya tidak terpatri dari tembaga. Hatinya bukan tercipta dari baja. Peluhnya apalagi, kulitnya apalagi, semuanya apalagi. Dia hanya seorang Dewa yang disusun dari nafas-nafas rapuh. Bertenun peluh. Wajahnya keruh. Seperti mendayung biru laut yang membuat kedua tangannya melepuh. Dewa mencoba menjadi dewa yang angkuh. Percuma, wajahnya meredup menahan keluh.Namun, cahaya Tuhan membuat gejolaknya bergemuruh.


Kini, di seberangnya terbentang daratan berpasir dengan nyiur-nyiur yang tampak murung. Dada Dewa membusung. Dia atur nafasnya yang di kupingnya seperti menggaung-gaung. Ia atur pula kecamuk-kecamuk yang di lubuk rasanya terasa menggantung. Sekejap saja ia berteriak dengan lantang. Bersama nama Tuhan ia mengerang.


“Di mana kamu Dewi!?”


Pulau Legundi itu tetap hening. Keheningan yang telah dicintai Dewa itu enggan membagi cerita. Pasirnya bagaikan butiran mutiara. Jernih airnya memantul-mantul sisik perak yang menawan. Nyiur-nyiur yang tipis itu menjulang seperti mercusuar alam. Semuanya tidak semerah dulu saat senja benar-benar menjadi raja. Di langit tanpa awan itu terdapat lengkungan pelangi bak tangga khanyangan.


Dewa tidak ingin mencari lagi di mana Dewi.


Rasa-rasa itu memiliki ruang sendiri di hati Dewa. Ia menyulam hari dengan benang-benang rasa, dengan warna-warna keyakinannya. Ia sudah lupa bagaimana waktu bisa mundur dan membuatnya sulit tertidur. Ia hanya percaya kepada satu kekuatan di balik sisa-sisa harapannya, bagaimana ia harus berdiri untuk tidak mundur. Ia percaya Tuhan telah menegur, mencegah keyakinannya tersungkur. Waktu terulur bersama tabuh beduk lima waktu membuatnya harus akur dan bersyukur.


***


Ia menghabiskan waktunya bersama Tuhan. Berdoa dan berdoa. Kekalahannya adalah ilham. Nyata baginya untuk hidup karena cinta Tuhan yang membangkitkannya dari kelam dan jeram. Di gereja ia memejamkan mata dengan tulus, meminta petunjuk kepada yang Kudus. Yesus ada di sampingku. Yesus berkati aku.


Dewa kembali ke kontrakannya dengan lapang dada. Sungguh, ia seperti terlahir dengan rasa-rasa yang baru. Ia merasa lega. Apalagi, Injil melekat dalam pelukan dadanya, membagi cahaya dalam detakan jantungnya. Ketika tiba di kontrakannya, ia terperanjat. Ia melihat Dewi di sana. Dewi yang berubah cantik dengan tapis tipis menutupi rambutnya. Bibir mungil dan hidung lancip itu masih sama seperti dulu. Menggairahkan.


Keduanya diam. Namun, ada kekuatan di balik pancaran mereka. Ada benteng tersendiri yang membuat mereka tegap dan mantap mempertahankan diri. Mulailah Dewi meminta maaf. Mengakui tanpa harus menyesali pilihannya. Sementara Dewa, ia tersenyum, ia juga tertawa, seakan ilham itu telah meneguhkan pendiriannya. Walau masa lalu mereka kelabu, mereka tidak mau menjadi sosok abu-abu yang malu karena pengecut. Mereka bercerita, lama sekali.


“Boleh aku mengajakmu ke Legundi? Sekali ini saja.” pinta Dewa akhirnya.


Dewi mengangguk seraya tersenyum.


Mereka jalan bersampingan, tampak menjaga jarak. Berbeda dengan pemandangan yang telah silam, mereka membuat raja senja cemburu. Membuat koral-koral tersipu malu. Itu dulu. Dulu, dahan nyiur yang bertaut itu tak ada apa-apanya dibanding tubuh mereka yang saling menyulut. Dulu, semuanya takluk dengan nafas cinta yang membuat mereka saling tunduk. Semuanya tampak jernih saat ini. Seperti bening riak yang berayun-ayun di bibir pantai Legundi. Koral-koral tampak menawan di rahim pasir, lalu dibantai ombak liar dan hamparan pasir itu seperti satin yang perawan.


“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, Dewi.” wajah Dewa tampak lega. Berseri. Pantulan perak laut bertaut di wajahnya.


“Aku siap mendengarkannya. Pastinya, itu yang membuat kamu tampak ceria.” Dewi menyeringai. Seringaian yang ditampakkan berbeda dari sebelum-sebelumnya.


“Aku akan pulang ke Pontianak besok. Aku rasa Tuhan telah memanggilku.” Dewa sumringah. Terpancar rasa sedih yang dihambarkan lewat sumringah itu.


Kening Dewi mengerut. Dibayangkannya kenangan-kenangan merah jambunya dulu. Ia memperoleh kesimpulan di situ. “Aku rasa kamu telah memperoleh jawabannya.”


Dewa menghela nafas dalam-dalam. Lalu ia duduk di sebuah batu besar di bibir pantai yang menghadap ke laut lepas. “Aku siap menjadi pastor.”


Jilbab Dewi berkibar-kibar. Ia duduk di batu yang berbeda dengan Dewa. “Allah telah menciptakan waktu seperti pasir dan ombak. Saat ombak telah menyeret pasir di Lagundi ini,” mereka menatap bibir pantai, saat itu juga ombak menghempas semaunya, “tak ada yang tersisa selain hamparan tanpa noda. Jejak-jejak keretakan itu hilang dengan sendirinya. Kau harus memulai seperti itu, Dewa.”


Lalu mereka tertawa, bersenda di atas batu besar di pantai Legundi yang hening. Awan senja mulai mengarak. Mega merah bergerak. Mereka tampak menjaga jarak.



Chapter 64, Pontianak, 11 Juni 2010

#Cerpen

Bahtera Angkasa

Hari ini, aku kehabisan tinta untuk menulis tentangmu.

Hari ini, imajinasi ku juga lagi padam untuk sekadar membayangkanmu.

Hari ini, aku tidak punya apa-apa untuk kamu.

Kamu tahu mengapa?

Seharusnya kamu bangun tengah malam tadi.

Kamu harus lihat langit.

Karena di sana, aku lukis wajahmu melalui lembar-lembar awan kelabu yang tenang.

Aku pakai semua tinta ku agar tidak menyisakan setitik nila pun tanpa membayangkan rupamu.

Kamu tahu, aku tidak ingin semuanya sia-sia bersama kamu, walaupun itu sekadar menghayal!

Lalu, aku kerahkan juga segenap imajinasiku.

Seumpama pasukan-pasukan zirah melingkari namamu.

Kamu harus tahu, kamu imajinasi terindah yang aku punya.

Kamu mencairkan pelangi hingga menjadi sebuah tegukan yang mengabadikan tujuh warnanya di hatiku, penuh nuansa.

Imajinasiku tidak pernah mati selama di dalam ruang pikiran ini tersaji oleh sesuatu bernama ‘kisah’.

Kamu pasti tahu ‘kisah’ itu.

Indah.

Menawan.

‘Kisah’ tentang kamu tentunya.

Kamu yang sudah menetas dalam lingkaran hidupku.

Seandainya kamu lihat langit malam tadi, kamu pasti maklum jika aku tidak bisa berkata apa-apa pagi ini kepada kamu.

Karena, sudah aku habisi sisa tenagaku untuk melukis langit malam tentangmu.

‘Bahtera angkasa’-ku

Dan, sepertinya aku harus puas karena sambutanmu pagi ini membuatku bersemangat untuk bangun dan bergegas mandi, bergegas menjalani hari.

Begini jawabanmu,

“Terima kasih telah melukis langit tadi malam. Lukisan indahmu yang membuatku seakan berada di tumpukan awan. Aku menelan bintang. Aku melahap bau bulan. Aku terbang dalam ‘Bahtera Angkasa’-mu, Sayang. Lautan langit yang indah tanpa tercemar oleh noda-noda debu kehidupan. Lautan Angkasa atau ‘Bahtera Angkasa’ itu adalah lukisan apik berisi wajahku. Kamu melukis mataku di antara gores-gores awan yang bergumpal. Kamu tahu, saat mata ‘lukisan’ itu membuka, aku melihat sesosok peri bercahaya dan bersayap putih serupa malaikat. Apakah itu kamu, Sayang?”



#Prosa

» Bahasa Ibu; Bahasa Bugis dalam Nafas Eksistensinya di Dusun Melati

NP: Oleh Mardian Sagiant


Perjalanan yang Menyenangkan Bersama ‘Hijau’.

Basah. Satu kata untuk saya mendeskripsikan semesta yang menyertai perjalanan saya. Perjalanan menuju Desa Kalimas yang konon katanya masih rapi menyimpan kehidupan ‘kuno’ dalam setiap aspeknya. Kehidupan ‘kuno’ yang tetap melembaga dan dijunjung tinggi oleh warganya, khusunya di Dusun Melati.

Menuju ke sana adalah misi saya bersama rombongan Malay Corner untuk membuat laporan perjalanan serupa Naratif Reporting. Kecintaan akan menulis membuat saya ikut serta dalam rombongan yang diprakarsai oleh STAIN ini. Dengan semangat membuncah, saya beserta kedua teman saya yang berasal dari Universitas Tanjungpura, ikut bagian dalam perjalanan ini. Perjalanan yang menyenangkan walau langit sepertinya tak bersahabat.

Keberangkatan telat satu jam dari yang diperkirakan. Karena hujan. Hujan yang turun sedari siang itu membuat saya harus singgah-menyinggah untuk tiba di Kampus STAIN – tempat tim berkumpul sebelum keberangkatan. Keberangkatan yang seharusnya dimulai selepas Ashar itu terpaksa ditunda kurang lebih satu jam. Menunggu tim yang berjumlah 32 orang ini berkumpul. Menunggu alam benar-benar merestui. Perjalanan menuju Kampung Banjar ini melahap waktu kurang lebih dua jam perjalanan.

Basah. Berkas hujan itu menghampar sepanjang aspal hitam. Bau basah juga menyeruak dari sela-sela angin yang menyinggah di penciuman saya. Walau sesekali terasa menampar tubuh saya yang gigil lantaran sweater yang saya kenakan lembab – akibat hujan sesiangan sebelumnya. Angin dingin, yang serta merta membuat saluran pernafasan saya damai dan lega. Secara tidak langsung membuat saya menikamti semua yang tersaji di sepanjang perjalanan. Pemandangan hijau yang sayang untuk dilewati.

Saya sampai di Desa Kalimas dengan perasaan sedikit melega. Saya kira, ‘di sanalah’ tempat yang akan saya kunjungi. Tempat yang indah dengan lanskap sungai di sisi jalan. Sangat serasi dikangkangi jembatan-jembatan kayu di atasnya. Tapi, nyatanya, bukan ‘di sana’ ‘dunia spesifik’ bernama Dusun Melati tempat saya dan tim melakukan penelitian itu berada. Dusun Melati yang faktanya harus saya lewati dengan sedikit, sedikit ‘bersabar’.

Ya, Sabar. Saya harus istirahat dulu sebelum menempuh satu rute darat bertanah kuning, lurus tanpa ujung. Dalam istirahat sejenak itu, saya beserta tim menghela nafas ‘tak percaya’ bahwa jalur itu yang harus kami tempuh untuk menuju Dusun Melati. Dusun Melati berada di Kabupaten Kubu Raya, Desa Kalimas. Tapi, warga di sana lebih mengenalnya sebagai Parit Banjar. Mungkin karena di sisi perjalanan ‘tanah kuning’ itu bersanding dengan sebuah parit yang panjang, sepanjang jalan tersebut. Konon katanya, desa yang berada di sisian parit itu dulunya dibangun oleh orang-orang banjar – sebelum sekarang didominasi oleh orang-orang Bugis. Oleh sebab itu, dinamai Parit Banjar. Selama perjalanan yang penuh guncangan – karena bebatuan dan sisa hujan – terasa terobati karena – lagi-lagi – pemandangan hijau di sekitar saya. Ditambah aliran parit yang meriak tenang sepanjang perjalanan, membuat kesan alami dan ‘desa’nya kental di sanubari. Mendamaikan.

Alam tampak kelabu karena matahari senja sudah menggelincirkan tubuhnya di peraduan. Petang tampak membayang dari ruas-ruas jalan yang lenggang. Yang terdengar hanya deru mesin kendaraan bermotor di depan dan di belakang saya. Milik tim tentunya. Saya sedikit melega, ketika sudah ada aba-aba untuk berhenti. Kami singgah untuk beristirahat sejenak lagi di rumah warga. Saya langsung memisahkan diri, menuju tepi parit yang seketika itu juga memancing saya untuk menggirup napas dalam-dalam di sana. Di tepi parit itu, saya masih menilik di sepanjang penjuru, dunia hijau yang sangat menyegarkan.

Hijau yang mulai meluntur diganti dengan poles ‘hitam’ malam saat suara adzan Magrib berkumandang. Istrahat telah usai, kami harus kembali memulai perjalanan menuju masjid terdekat. Masjid Misbahuddin.

Kami solat Magrib berjamaah di sana. Kurang lebih satu jam menunggu solat Isya juga untuk berjemaah di sana. Sembari menunggu waktu Isya, kami bercengkrama dulu bersama teman-teman tim. Khususnya dua teman saya dari Untan, Riani Kasih dan Fitriani Bulovee. Kami berceloteh singkat seputar humor-humor. Untuk menghilangkan penat yang amat terasa merajai. Dan kami berhasil melewatkan satu jam bersama itu, sembari mendengarkan wawancara singkat antara Pengurus Masjid dengan beberapa tim mengenai ‘Masjid Misbahuddin’ dan ‘Islam’ di sana. Begitulah kira-kira.

Tibalah waktu selesai solat Isya berjamaah. Kami berkumpul, dipecah-pecahkan menjadi kelompok-kelompok kecil – yang sebenarnya sudah ditentukan. Kami, satu kelompok kecil yang dimentori Bang Didi, mendapat ‘anugerah’ untuk bermalam dan ‘berbagi’ di kediaman Bapak Usman lambatong.

Hanya berjarak dua rumah dari masjid Misbahuddin. Alhamdulillah.

Satu Malam yang Terasa Panjang Bersama Ibu Murni.

Hangat. Ramah. Tenang. Ramai. Sepertinya cukup untuk menggambarkan keluarga Bapak Usman Lambatong.

Bapak Usman beserta istrinya, Ibu Murni, menyambut kami dengan seringai senyum menyenangkan. Meluluhkan segenap perasaan lelah yang kian malam terasa memadat.

Di sana, saya – beserta kelompok – duduk di ruang tamu dengan perasaan lepas. Seolah beban perjalanan sebelumnya teruap seketika. Kami mencoba beradaptasi dengan situasi. Saya terutama, terdiam untuk beberapa waktu. Mencoba mencerna dan memaknai ‘adaptasi’ tersebut. Adaptasi yang tidak memakan waktu banyak karena sikap keluarga Bapak Usman yang ramah dan terbuka.

Pertemuan kecil di ruang tamu itu juga dihadiri oleh Bapak Husni, dari Rt 5. Bapak Husni banyak bercerita tentang Dusun Melati yang saat itu juga berarti memberi banyak informasi yang kelompok kami butuhkan. Sesekali anggota kelompok kami bertanya mengenai ‘mata pencaharian, pendidikan, dan lain-lain’. Setiap anggota dalam tim ini, hanya memiliki satu batasan tema yang dipilih untuk diteliti dan ditulis. Saya sendiri, lebih tertarik untuk mengkaji aspek ‘bahasa’ yang terdapat di Parit Banjar atau Dusun Melati.

Bapak Usman dan Ibu Murni, beserta Bapak Husni tampak bersemangat bercerita tentang ‘Dusun Melati’ secara umum. Sesekali diselingi tawa masing-masing sebagai tanda bahwa tak ada hal-hal serius yang membuat semuanya kaku. Pertemuan kecil ini mengalir. Mencair sebagai mana mestinya.

Saya butuh ruang khusus untuk bertanya kepada keluarga Lambatong mengenai aspek ‘bahasa’. Dan Masalah spesifik itu adalah, Eksistensi Bahasa Ibu; Bahasa Bugis di Dusun Melati.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perlahan-lahan saya merasa normal kembali dari penat yang sebelumnya sempat menggerogoti. Saya, yang pada saat itu sedang duduk di ruang tamu sembari menyerumput teh hangat, melihat Ibu Murni sedang duduk santai di ruang tengah. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekadar saling ‘membuka diri’ secara pribadi dan memulai untuk menggali informasi dari sejumlah pertanyaan yang telah saya sediakan.

Ibu Murni tersenyum ketika saya utarakan maksud saya itu. Saya duduk di tikar pandan yang nyaman di hadapan Beliau. Tapi, sebelumnya, dia berkata sesuatu kepada putrinya.

iye tepere,”

Putrinya, Wahdania – biasa disapa Nia – mengangguk paham. Lalu ia mengambil tikar yang tampak menggulung di samping ibunya.

“Itu apa artinya, Bu?” tanya saya.

“Ini tikar,” jawabnya, “ini bahasa Bugis.” Lanjutnya dengan santai.

Saya mengangguk, dan sepertinya saya memperoleh kesempatan tepat untuk memulai pertanyaan dari kalimat itu. “Apakah Bahasa Bugis masih Ibu gunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga?”

“Tentu lah. Kami orang Bugis. Sudah semestinya pake Bahasa Bugis di mana-mana. Apalagi dalam keluarga.” Jelas ibu berusia 48 tahun ini. “Bahasa Bugis itu bahasa nenek moyang kami.”

Saya mengamati raut tua di wajah Ibu Murni. Dia sangat cantik dengan hidungnya yang lancip. Dalam usia yang hampir setengah abad itu, dia tampak tetap bersemangat menjalani hidupnya. Terbukti dari gerak-geriknya yang masih lincah. Dari fisiknya yang tampak sehat dan kuat. Kulitnya tampak terbakar karena pekerjaannya sebagai peladang memaksanya untuk berlama-lama di bawah terik siang.

“Bagaimana dengan anak-anak Ibu. Apakah masih mempertahankan Bahasa Bugis sebagai Bahasa Ibu-nya?” tanya saya. Sebelumnya, saya jelaskan kepada Ibu Murni bahwa Bahasa Ibu adalah Bahasa Pertama yang dipelajari seseorang dalam hidup. Bahasa Ibu merupakan bahasa daerah pertama yang dipelajari anak ketika baru bisa berkomunikasi.

“Anak-anak semuanya memakai Bahasa Bugis di sini. Di rumah ini, komunikasi semuanya menggunakan Bahasa Bugis. Saya sebagai orang tua sudah menanamkannya sejak kecil. Saya ajarkan anak saya tentang apa saja dengan Bahasa Bugis, Bahasa Ibu seperti yang Adek maksud.” Ujar Ibu Murni mantap.

Saya sedikit lega. Karena saya banyak belajar mengenai pentingnya Bahasa Ibu dalam kehidupan. Bahasa Ibu atau bahasa daerah yang merupakan jati diri bangsa, jati diri ‘kesukuan’ tentunya. Untuk dewasa ini, sebenarnya eksistensi suatu ‘suku’ dapat dilihat dari penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan – apalagi lingkungan multietnis. Karena banyak suku yang sepertinya menyepelekan bahasa tersebut dan lebih tertarik untuk belajar bahasa asing yang menurut paradgima pemikiran mereka ‘lebih modern, lebih maju, lebih berpendidikan’.

“Itu tergantung lagi orangnya. Kalau kehidupan di kota, di Pontianak misalnya, bahasa daerah itu sudah tidak dipakai lagi. Kalaupun ada, itu sudah bercampur-campur dengan bahasa-bahasa asing dan bahasa anak muda (gaul) yang sekarang lagi banyak dipakai,” Ibu Murni menjelaskan dengan ekspersinya sedikit kecewa saat saya mengutarakan tanggapan saya di atas, “Beda dengan kami di sini. Kami hidup di pedalaman. Di kampung yang kebanyakan orang Bugis. Jadi sebagian besar kami di sini berkomunakasi dengan Bahasa Bugis. Walau ada juga yang sepertinya ‘anak muda’ yang tidak menyukainya lagi. Biasalah, anak zaman sekarang.”

Dan, selalu yang menjadi masalah adalah generasi muda. Memang, tidak bisa dipungkiri, segala sesuatu yang berbau ‘tradisional’ perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Tidak diskriminasi wilayah, di dusun sekalipun, keberadaan ‘budaya’ mulai meluntur perlahan-lahan ketika generasi tua mulai melenyap satu persatu-satu. Kali ini, Bahasa Ibu, Bahasa Bugis di Dusun Melati seperti berada dalam masa ‘pertaruhan’ eksistensinya. Tidak mengharap ‘kepopuleran’ walaupun itu harus ditekadkan sebenarnya. Keberadaannya saja sekarang justru terombang-ambing dalam lautan modernisasi. Tidak perlu dipungkiri ‘kemajuan’ dari segala aspek menjadi suatu kebutuhan. Dan, sewajibnya juga, bahasa daerah tetap menjadi darah daging selayaknya di mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Tidak ada alasan logis satupun untuk menenggelamkannya tanpa buih.

Saat bersamaan saya melihat seorang perempuan renta dengan rambut yang memutih seutuhnya jalan terseok-seok di samping saya. Nek Bidong namanya. Nenek itu membawa tikar – yang ternyata pembuat tikar di rumah belakang. Dan tikar halus dan nyaman yang kami duduki ini adalah hasil olahan tangannya. Anyaman yang rapi dan rumit. Ciri orang ‘dulu’ yang dikenal telaten.

Nek Bidong senyum ketika melihat saya. Tapi setelah itu, lontaran kalimat panjang dan fasih meluncur dari mulutnya. Kalimat-kalimat rumit yang membuat saya hanya bisa melongo. Kalimat-kalimat yang tampak ‘halus’ dan berciri khas. Kalimat-kalimat yang tidak dapat saya rekam dalam memori otak saya. Kalimat-kalimat yang tidak dapat saya tulis juga di secarik kertas yang saya punya. Kalimat-kalimat panjang dan fasih dalam Bahasa Bugis. Nek Bidong yang sedang membicarakan ‘sesuatu’ kepada Ibu Murni. Begitu juga dengan Ibu Murni, merespon perkataan Nek Bidong itu dengan Bahasa Bugis yang tak kalah panjang. Fasih. Lalu, Nek Bidong pamit kembali dan tampak raut puas di wajahnya. Tidak lupa, dia tersenyum kepada saya sebelum tubuhnya yang bungkuk itu benar-benar raib ditelan gelap pelantaran dapur.

“Itu Nek Bidong. Dia hanya berpesan untuk memberi satu tikarnya nanti kepada itu,… si ketuamu.” Bang Didi maksudnya. Ibu Murni melanjutkan lagi untuk mengurai secara singkat tentang Nek Bidong. “Nek Bidong itu Ibu saya. Kami aslinya Bugis Kalolah. Nek Bidong itu, bahkan tidak tahu bahasa Melayu. Tahunya cuma Bahasa Bugis. Begitulah orang dulu-dulu. Cinta mati dengan ‘kepunyaan’nya.” Ibu Murni tampak dramatik. Dan tetap saja, logat Melayu-nya selalu ‘kena’ saat ia bercerita menggunakan Bahasa Indonesia-nya.

Menurut saya, Nek Bidong adalah sosok idealis dalam mempertahankan budayanya. Terutama bahasa daerahnya. Pengalaman hidupnya yang terisolasi pada zamannya, membuat segala sesuatu pada saat itu tertutup di Parit Banjar. Minimnya transportasi dan ‘terbelakang’ pada saat itu. Berkurangnya komunikasi dengan ‘dunia’ kota karena teknologi yang tidak berkembang saat itu. Infrastruktur yang tidak memadai saat itu. Dan kendala-kendala lainnya menyebabkan Parit Banjar pada zamannya hanyalah dunia kecil yang hanya diisi oleh orang-orang sesukunya. Orang-orang dulu yang hanya memakai satu bahasa, Bahasa Bugis. Itu zaman Nek Bidong. Dia hanya menguasai satu bahasa. Bahasa Ibu-nya.

Dan kita tidak perlu menjadi Nek Bidong untuk zaman sekarang ini. Karena itu mustahil di tengah meluapnya gelombang modernisasi yang tak lagi kenal ‘saringan’. Masuk begitu saja, tak terkecuali bahasa. Tidak perlu jauh-jauh untuk ‘berlagak’ pahlawan terhadap budaya sendiri. Mulai cintai dulu Bahasa Ibu, bahasa yang mengajari untuk pertama kalinya tentang moral dan cinta dari orang tua kita. Dan perlu ditegaskan, jangan malu sementara ‘situasi’ memang mengharuskan ada ‘kamus bahasa asing’ di tangan kanan-kiri kita. Karena kita tidak ‘mempopulerkan’. Kita hanya menggenggam nyawa ‘eksistensi’-nya. Supaya tetap ada, jangan sampai punah.

Percakapan terus mengalir sementara dingin malam terus mengembara. Masuk melalui celah-celah udara dan menetap di kulit siapa saja yang terbuka begitu saja. Dingin itu amat kentara memoles kulit saya. Menyergap hingga terpaksa untuk beberapa kali saya harus mengelus-elus lengan dan telapak kaki saya. Hujan tampak menunggu dari gelambir-gelambir awan tebal hitam di langit kelabu yang pekat dan kelam. Hujan memang sudah datang pada waktunya. Pada musimya. Pada akhir tahun.

Saya masih bersemangat untuk berbincang dengan Ibu Murni. Begitu juga dengan Ibu Murni sendiri. Sesekali celoteh-celoteh humor mengisi tawa kami. Kudapan pisang goreng hangat yang dibuat Nia, menjadi teman santai saat itu. Semuanya mencair begitu saja. Karena Ibu Murni, sungguh, sosok yang menyenangkan.

“Saya paham betul dengan peran Bahasa Ibu atau Bahasa Bugis dalam keluarga Ibu. Di sini sangat melestarikan bahasa daerah dalam bentuk komunikasi keluarga. Lantas, bagaimana dengan peranannya dalam lingkungan masyarakat?” tanya saya.

“Tergantung. Dengan siapa saya bertemu,” jawabnya singkat.

“Maksudnya?” tanya saya lagi karena masih ambigu dengan jawaban itu.

“Kalau besama tetangga-tetangga, saya gunakan Bahasa Bugis. Karena di kampung ini rata-rata orang Bugis. Kecuali satu tetangga di depan sana. Dia orang Sambas. Kan tidak mungkin saya pakai Bahasa Bugis kalau ketemu dia. Saya pakai bahasa Melayu untuk berbicara.”

“Di mana saja Ibu menggunakan Bahasa Bugis?”

“Di mana saja. Di pasar. Di sawah. Di warung. Di sungai. Di mana saja selama orang yang saya temui itu orang Bugis, saya bicaranya pakai Bahasa Bugis. Kecuali di pengajian. Karena di sana tidak semuanya orang Bugis. Ada juga orang Melayu. Jadi, saya pakai bahasa Melayu kepada mereka.”

Intinya, kita harus pandai menempatkan diri. Kita harus pandai beradaptasi dengan lingkungan ‘di mana’ kita berada. Seperti Ibu Murni, tak ada alasan untuk meninggalkan Bahasa Ibu-nya dalam kehidupan sehari-hari. Kecuali, jika situasi masyarakat ‘majemuk’ dan Beliau cukup pandai membawa diri untuk menjalin komunikasi yang kondusif.

Malam kian melarut. Namun tampak semakin seru ketika Bapak Usman beserta putrinya, Wahdania, ikut bergabung bersama saya. Tiga onggota kelompok kami beserta mentor kami, Bang Didi, sudah menuju ke kamar yang sudah di sediakan di lantai dua. Saya, yang sebetulnya juga bersama teman saya, Fitriani Bulovee, masih asyik bercengkarama bersama keluarga Lambatong di ruang tengah.

Hujan pun turun. Cukup deras. Terdengar ‘tumpahannya’ seperti memecah seng. Rumah tersebut tidak memiliki langit-langit sehingga terdengar leluasa suara ‘pecahan’ seng tersebut di antara kami. Namun, sama sekali tidak mengurangi daya dengar kami terhadap apa yang keluarga Lambatong ceritakan.

Saya pun tertarik untuk mengajukan satu pertanyaan khusus kepada Bapak Usman Lambatong.

“Saya tadi sudah ngobrol banyak dengan Ibu Murni mengenai Bahasa Bugis,” saya sumringah. Begitu juga dengan Bapak Usman. “Bagaimana pendapat Bapak tentang keberadaan Bahasa Bugis sebagai identitas kesukuan?”

Bapak Usman menghela nafas panjang. Berpikir sejenak.

“Bahasa Bugis itu sebenarnya menarik. Pada zaman kerajaan dulu, Bahasa Bugis dibunyikan seperti lagu-lagu. Ada yang seperti syair. Pokoknya bagus,” tuturnya seraya meyakinkan saya, “Bahasa Bugis itu identitas orang Bugis. Sebagai orang Bugis sudah sewajibnya kita bangga memilikinya. Bukan cuma memiliki, tapi memakainya. Mana mungkin kita menyuruh orang lain yang bukan orang Bugis aslinya.”

Satu hal yang dapat saya tangkap dari jawaban itu adalah, kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk ‘bangga’ dari apa yang kita ‘punya’, sementara kita sendiri, acuh dengan ‘kepunyaan’ tersebut. Contoh konkrit tersebut dapat dilihat dari eksistensi bahasa daerah yang kian merosot ‘pemilik’-nya.

Dan, saya melihat Wahdania di sana. Duduk manis di samping bapaknya. Nia adalah sosok yang memiliki ‘perspektif’ genenaris muda. Usianya delapan belas tahun.

“Kalau menurut Nia, sebagai Generasi Muda, bagaimana perananan Bahasa Ibu atau Bahasa Daerah dalam lingkungan. Baik itu lingkungan keluarga, teman sebaya, dan masyarakat?” tanya saya penasaran.

Nia tersipu malu. Dengan seringai senyum ‘gugup’ akhirnya berhasil juga ia menjawab pertanyaan saya dengan lancar. Dengan ‘perspektif’ generasi mudanya. “Kalau menurut saya, anak muda zaman sekarang lebih suka menggunakan bahasa gaul. Termasuk juga yang dibilang penting, Bahasa Inggris. Sedangkan bahasa daerah sering dianggap kuno. Padahal seharusnya, bahasa daerah itu dipakai sebagai ciri kita orang yang ber-suku. Kalau saya di rumah sih pakai Bahasa Bugis. Kalau lagi bersama teman-teman pakai bahasa Bugis, biasa juga bahasa Melayu. Kadang-kadang, teman saya yang memang aslinya orang Bugis suka ngomong pake bahasa Melayu. Bahasa gaul seperti di film-film lebih sering digunakan untuk sekarang ini. Kan ingin membuktikan dirinya ikut ‘gaul’.” Papar Nia dengan setengah serius. Lalu lagi-lagi, dia tersenyum, senyum ‘gugup’.

Dan, saya mengakhiri percakapan itu ketika menyadari di antara kami, satu sama lain menyimpan beban berat yang sama, yaitu ‘kantuk’. Ya, kami saling mengucapkan selamat malam ketika Bapak Usman, Ibu Murni, dan Nia memasuki kamar masing-masing. Sementara saya, beserta teman saya, Fitriani, memilih tidur di ruang tengah itu juga. Dengan hamparan tikar pandan yang masih meruap wanginya. Dengan suhu dingin yang terus gentayangan di seisi rumah.

Kami semua tidur dalam selimut doa tatkala hujan bersenandung deras.

Minggu Pagi Bersama ‘Senyum Simpul’ di Sepanjang Jalan dan Si Sepuh, Nek Timang.

Saya bangun saat Subuh membukakan telapak tangannya. Tangan untuk saya sambut dan saya genggam seraya berkata, tuntun saya untuk merasa bahagia hari ini.

Saya melaksanakan solat Subuh berjamaah. Setelah itu, saya berpikir, apa yang harus saya lakukan di pagi yang masih gelap ini?

Saya membangunkan Fitriani. Saya ajak dia untuk olah raga pagi. Berjalan kaki sejauh langkah melelah. Ada dua alasan yang membuat saya terpikir dengan ide tersebut. Yang pertama, saya malas berolah raga dalam kebiasaan pagi. Alasan kedua, saya ingin menikmati pemandangan alam Dusun Melati denga gerak santai, jalan kaki, sejauh hati membawa.

Ya, saya mulai rute ke arah Timur. Masih saja dingin terasa menusuk. Sisa-sisa hujan masih terendus dengan bau basah di sudut-sudut jalan. Bau klorofil yang segar itu merupakan ciri pagi yang saya rindukan. Di sini, dapat saya hirup sepuas-puasnya bau-bau klorofil yang masih segar dan perawan dalam acara ‘jalan kaki’ ini. Saya juga melihat rumah-rumah warga yang unik dengan bentuk panggung. Rumah kayu yang cantik dan unik. Saya mengamati setiap perahu kayu yang lewat. Anehnya, sebagian dari mereka banyak yang didayungi seorang nenek sepuh. Selalu, saya mendapat hadiah ‘senyum’ dari mereka.

Sepanjang jalan, saya melihat orang-orang bersepeda dengan menggunakan caping di kepalanya. Di belakangnya diikat pekakas ladang. Ada juga dari mereka yang tampak berjalan kaki dengan mata pencaharian yang sama. Berkelompok kecil seraya berbicara sesuatu dengan bahasa Bugis yang tidak saya pahami. Ketika berpapasan, kami saling bertukar senyum. Saling mengucapkan salam. Saling bertegur sapa walau pembendaharaan kata yang saya pakai cuma sekadar, “Pak,.. Bu,.. Mas,… Mbak,… Dek,… Pagi,…”

Sepanjang jalan, saya banyak melihat interaksi sosial masyarakat. Di teras rumah dengan acara ‘bersih-bersih’ pagi. Di sungai saat mandi dan mencuci. Di jalan saat harus berangkat kerja dan urusan lainnya. Di warung saat harus membeli sesuatu. Di langkau saat harus berurusan dengan kelapa. Di mana saja saat tak letih-letihnya saya mengamati mobilitas sosial di pagi yang cerah itu mereka tetap menggunakan bahasa daerah dengan logat yang kental dan fasih, Bahasa Bugis. Bahasa Ibu mereka.

Dan anehnya, kesemuanya itu hanya diperankan oleh orang-orang tua, atau dikenal dengan istilah umumnya, ‘Generasi Tua’.

Terbukti dengan ucapan singkat Nek Timang yang penuh ekspresi kecewa, “Anak muda zaman sekarang sudah ‘kemelayu-melayuan’. Dia tidak suka lagi dengan Bahasa Bugis. Susah mau dibilang.”

Nek Timang adalah sosok sepuh yang kami temui ketika Beliau sedang asyik menganyam lampang, sebuah benda menyerupai keranjang untuk menjemur beras. Keberadaan nenek yang tinggal dengan satu cucunya ini cukup mencolok pemandangan. Membuat saya terkesan untuk singgah. Untuk melihat pekerjaan anyamannya, sekaligus bertanya tentang Bahasa Bugis yang cukup erat dilestarikan olehnya.

“Bagaimanapun juga, saya ajarkan cucu-cucu saya Bahasa Bugis. Biar dia tidak lupa dari mana ‘asal’nya. Biar dia bangga dilahirkan sebagai orang Bugis.” Tuturnya mantap. “Susah kalau kita sebagai orang tua saja tidak mempedulikannya. Kan yang harus mengajarkannya itu orang tua terlebih dahulu.”

Nenek yang cerdas. Itulah yang bisa saya simpulkan untuk sosok sepuh Nek Timang. Dia benar-benar kritis. Saya suka dengan semangatnya yang muncul dari warna suaranya yang lantang saat saya mengajukan pertanyaan untuknya. Sungguh berkesan untuk berbagi cerita bersama Nek Timang walau itu hanya ‘sambil lalu’. Dan Beliau menyampaikan satu pesan penting berupa peribahasa klasik yang bernilai klise, namun cukup bagus untuk kita semua, terutama generasi muda jadikan renungan.

“Anak muda sekarang, seperti kacang lupa kulitnya.”

Setuju!

Saya pun berpamitan dengan Nek Timang, bersalaman.

Saya pulang ke rumah Bapak Usman tepat ketika cahaya pagi menerobos lepas di semesta. Bapak Usman sedang berangkat kerja. Sementara, Ibu Murni sudah merencana sesuatu untuk saya dan Fitriani. Kami di ajak ke sawah.

Kami memakai bot yang telah disediakan. Dan, seketika, langit tiba-tiba mendung. Memang, menebak cuaca akhir-akhir seperti ‘permainan’. Bisa saja saat panas terik, tiba-tiba hujan. Tidak jelas. Tapi, semua itu tak menyurutkan niat kami untuk melangkahkan kaki di antara becek dan lumpur menuju sawah yang konon katanya, jauh. Dan, begitulah keadaannya. Jauh sekali.

Lagi-lagi, saya mengamati ‘latar alamiah’ terjadinya komunikasi di sana. Saya memanfaatkan setiap momen ‘pertemuan’ yang terjadi untuk mengetahui seluk-beluk komunikasinya. Pertemuan antara Ibu Murni dan para tetangga saat kebetulan melintas di depan rumahnya. Pertemuan Ibu Murni dengan temannya yang kebetulan lagi berpapasan di jalan. Pertemuan Ibu Murni dengan para petani yang lagi sibuk bercocok tanam di sawah. Semuanya itu terjadi dengan satu kesamaan, sama-sama ‘menggunakan Bahasa Ibu’. Salut.

Gerimis turun dengan sederhana. Saya, Fitriani, dan Ibu Murni bergegas pulang melintasi berhektar-hektar sawah. Melewati hutan pinang. Banyak yang kami petik dari sawah Ibu Murni untuk dijadikan sarapan. Kami kembali ke rute semula dan terpaksa harus melewati kembali rumah-rumah tetangga seperti sebelumnya, lagi-lagi mereka saling bertegur sapa dengan bahasa Bugis. Satu bentuk ikatan bermasyarakat yang rukun. Saya pun, lagi-lagi tersenyum untuk mereka.

Sampai di rumah, saya sarapan. Lalu menyiapkan segala sesuatu sebelum pulang.

Terima Kasih untuk Keluarga Lambatong.

Tepat pukul sepuluh, saya berpamitan dengan Bapak Usman Lambatong. Dengan Ibu Murni. Dengan Nia. Begitu juga kepada Supandi, putra sulung Bapak Usman yang baru bisa saya temui karena sebelumnya dia merasa tidak enak badan. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga Lambatong atas semua keterbukaan dan keikhlasannya dalam menerima kami semua.

Kami berkumpul lagi di masjid Misbahuddin sebelum bertolak ke Pontianak. Gerimis mulai menipis. Walau tidak bisa dijanjikan langit akan cerah setelah itu. Sepanjang perjalanan di tanah kuning basah dan penuh guncangan itu, begitu banyak kesimpulan yang singgah di benak saya. Perihal Bahasa Ibu yang sepertinya memiliki dua kutub. Dua kutub pertentangan. Kutub antargenerasi. Padahal, Bahasa Ibu merupakan bahasa yang mengenalkan anak-anak kepada kebudayaannya sendiri. Bahasa Ibu merupakan bahasa yang santun, toleran, dan bermoral. Bahasa Ibu adalah cermin nilai keluhuran dan estetika kebudayaan yang tinggi. Bahasa Ibu adalah bahasa daerah, bahasa pertama sebagai dasar konsep berpikir anak, pembentuk mental, dan tentu saja kepribadian anak yang suatu nanti dapat mencintai dan melestarikan budayanya sendiri.

Kembali, hujan menggiring kepergian saya beserta tim. Dusun Melati tampak jauh di belakang.

(Source: mardiansagiant)

#Feature

Yeah! It’s fuckin fact!

(Source: mardiansagiant)

via chickenboy55 (originally ikenbot)

14210 notes #Blah blah

Rekomendasi Bacaan Bagus #14

#Buku

Talaluh & Liring [1]

Namanya Liring. Yang mengantarkan saya pada sebuah gerbang masa lalu, yang mana kaki saya menolak tegas untuk maju, namun intuisi laksana bayi yang mengendus bau susu.

Saya masuk. Dan, cahaya pertama yang menyergap sosok saya adalah sirat matanya yang menusuk. Ada milyaran jarum, yang menuntut milyaran rasa, yang diusahakannya diperunjuk. Namun, ia terlihat begitu gopoh dengan mencoba menjadikan semua rasa itu semacam bentuk. Bentuk bola yang menggelinding, yang dikiranya dapat melabrak saya hingga hanya menyisakan gigi bergemeletuk.

Yang bisa dilakukan Liring saat ini hanya menatap, menunggu cahaya redup yang membungkusnya jatuh menelungkup. Kemudian membungkus saya, dan dapatlah tereduksi semua rasa yang digelanyuti itu di semua gram-gram diri saya dengan katup. Rasanya: pedih yang meletup-letup.

Liring, apa yang terjadi denganmu sejauh itu?

Mengapa pedih ini menjadi familiar di setiap bagian napasmu?

Begitu banyak yang terlewat, dan saya, yang pada saat ini seharusnya tidak bersinggah di teras silam, terpaksa dijamu dengan kenyataan seperti itu—bagaimana mungkin saya dapat bersiul saja sambil lalu?

Lalu, ada paraumu yang mengeretak pada dinding kelam di sekitar saya. Paraumu, yang dikomposisi oleh senyawa luka itu melunturkan segala maha daya. Kemudian isakmu pecah, serupa setetes raksa yang menyambar api adidaya. Menjadi lumpuh, karena terus terang: saya tidak tega.

Liring ada di atas sana, bertengger dalam ranting tipis dan rapuh. Ia melihat saya yang gigil berpeluh. Namun, rasanya, ia tidak mempedulikan saya, serupa saya tidak mengindahkannya—yang ternyata saat itu ia bersimbah eluh. Ia tak acuh. Bernyanyi dengan ratap beraduh-aduh.

Ia menunggu jatuh.

#Prosa #Draf Novel #Luh

I exist because you exist. We are one, in plain view.

#Blah blah #Tit

Tik

Langit lagi berpeluh, setelah sejak terik bersauh

Tik
Tik
Tik

Kapas lebam itu,
bereinkarnasi menjadi bulir-bulir rindu yang menembang dan bertandang di ambang jendelamu

#Puisi

Rekomendasi Bacaan Bagus #13

#Buku